"MENAKLUKAN" SI SULUNG MELALUI STIFIn



Add caption


Assalamu'alaikum

Utak atik perabotan rumah mulai dari blender sampai kipas angin. Lompat, lari-larian kesana kemari, serasa baterai ga ada habisnya. Pengen banget copot baterainya sebentar buat Emak istirahat trus pasang lagi (duh.. emang robot ya :) ). Kondisi ini pasti sudah ga asing buat Mahmud yang punya balita(Ayo... ngaku 😄)

Hampir setiap hari kondisi itu terjadi. Apalagi ini punya 2 orang balita yang sama-sama hebohnya, jadi bersa main Roller Coaster, emosi Emak dibikin naik turun 😃. Apalagi waktu dulu anak pertama, masih buta banget dengan cara ngasuh anak, cara menghadapi balita terutama saat tantrum, dan cara mendidik anak.

Fatih... anakku yang pertama termasuk anak yang sangat aktif (yang kedua ternyata lebih aktif lagi 😂). Bahkan dulu saat usianya 3 tahun (sekarang usianya sudah 5 tahun 7 bulan), sempat berfikir kalo dia itu anak hyperaktif. Karena terus lompat lompatan seperti tidak ada capeknya. Bahkan jika tidak diberikan kegiatan dirumah (Montesorri, istilah jaman sekarang 😊), pasti ada saja "ulahnya" yang bikin kepala Emak meledak dan rasa mau nangis.

Menyadari Fatih yang terus bergerak seperti gangsing dan cenderung tidak bisa diam, dan usia sudah memasuki tahun ke-4. Maka, kami berusaha menyalurkan energinya dengan memasukkan nya kesekolah Play Group yang berbasis alam. Kenapa kami mencari yang berbasis alam???? bukan karena supaya bisa dibilang kekinian 😋 , tapi karena karakter Fatih yang cenderung bergerak tidak bisa diam. Sekolah yang berbasis sekolah alam akan lebih menyalurkan energinya. Karena sekolah alam lebih banyak bermain diluar kelas, dan sedikit berkegiatan di dalam kelas. Dan, yang lebih utama lagi, di kelas tidak disediakan tempat duduk. Kebayang khan... anak yang seperti Fatih jika harus duduk manis dibangku, pasti tidak akan bertahan lama, dia akan mudah gelisah. Ya.. itu karena pembawaannya yang aktif.

Saat memasuki sekolah inilah, kami mengetahui ada yang unik dari Fatih. Yaitu saat sharing (istilah disekolah Fatih) antara guru dengan orangtua. Disanalah banyak hal yang baru saya ketahui mengenai perkembangan Fatih (Ampyun... ini Emak kemana aja?? baru tau perkembangan anaknya 😭). Yang paling saya ingat saat itu adalah bahwa ada perkembangan motorik kasar Fatih yang kurang dibandingkan anak-anak seusianya, dan mengalami kurang fokus (ditandai dengan baru menoleh ketika 2x panggilan), dan selalu menggunakan tangan kiri di hampir setiap aktifitasnya.

Gurupun menyarankan ntuk saya mengkonsultasikan hal tersebut kepada yang paham betul dengan perkembangan anak yaitu Dokter Tumbuh Kembanng Anak. Karena, mereka sebelumnya juga mempunya murid yang hampir sama, dan setelah konsultasi ke dokter dan sekolah menerapkan saran dari dokter, maka anak mengalami kemajuan.
Mendengar kondisi itu dan saran dari pihak sekolah, sebenarnya membuat saya rasanya ingin menangis karena seperti merasa bersalah. Perkembangan apakah yang saya lewati????

Kami mengikuti saran dari sekolah. Alhamdulillah menemukan Dokter Tumbuh Kembang Anak yang baik. Setelah saya ceritakan masalahnya, termasuk kegemaran Fatih yang selalu menggunakan tangan kiri dalam aktifitasnya. Beliau mendekati Fatih diajaknya mengobrol dan bermain.
"Ibu... anaknya ga apa-apa koq,anaknya pintar. Memang kontak mata dengan lawan bicaranya kurang, tapi Fatih masih ada interaksi dan mengerti perintah. Soal ini hanya perlu latihan terus, dan selalu diingatkan ke Fatih ntuk menatap mata lawan bicara. Kemudian mengenai motorik kasarnya, ini bukan salah di anak tapi salah di orang tuanya (Jlebbbb.... lagi-lagi Emak seperti 'tertampar'). Karena orang tua kurang memberikan stimulasi kepada anak (anak pertama, masih minim pengetahuan saat itu, pembelaan diri 😌). Tidak perlu terapi disini, terapi saja dirumah dengan latihan berenang, ajak main sepeda lalu bermain Engklek (betul ga ya nama permainannya 😋). Dan.. jika anak Ibu lebih dominan menggunakan tangan kiri, tidak masalah. Jadikan itu sebagai sebuah berkah dari Allah SWT, karena tidak semua anak bahkan orang dewasa yang mampu beraktifitas dengan menggunakan tangan kiri".

Mendengar penjelasaan Dokter, sebenarnya membuat saya sedikit lega karena Fatih sesungguhnya adalah anak yang luar biasa. Namun, kami sebagai orang tua yang belum memahami bagaimana sebaiknya merespon segala prilakunya. Memang... jujur saja, saya dan suami tidak pernah mengajak Fatih saat itu belajar berenang (lebih sering hanya main air saja  😊), dan tidak terfikir oleh saya dengan naik sepeda akan melatih motorik kasar anak melalui menggoes. Dan... ternyata permainan-permainan bentuk montesorri yang saya lakukan dirumah masih kurang, dalam arti tidak menyesuaikan permainan dengan tujuan perkembangan anak saat itu.

Yang utama dari hasil konsultasi saya ke Dokter adalah sharing dengan pihak sekolah terutama dengan fasilitator Fatih di sekolah (nama lain Guru, ntuk disekolah Fatih). Alhamdulillah... kami menempatkan Fatih disekolah yang tepat, karena misi sekolah adalah mengembangkan karekter anak melalui kerja sama antara guru dan orang tua. Fasilitator pun siap membantu, memberikan stimulus-stimulus demi perkembangan Fatih (Terima kasih bapak ibu).

Dengan terus memberikan stimulus-stimulus dan mengamati perkembangan Fatih. Lalu... saya coba membawa Fatih kembali lagi ke Dokter Tumbuh Kembang Anak. Namun... kali ini hasil konsultasinya cukup mengejutkan untuk saya (Karena, dokter yang awal sudah tidak ada di RS yang sama, terpaksa konsul dengan dokter yang baru). Disini, Fatih diharuskan ntuk ikut terapi 2x dalam seminggu selama 6 minggu. Hal itu dilakukan karena mengingat Fatih akan masuk ke sekolah dasar, dan tingkat fokus Fatih masih dinilai kurang diusianya.

Pergolakan dalam batin sayapun dimulai. "Ada apa dengan anak saya??, Fatih masih bisa berinteraksi, Fatih masih bisa mendengarkan perintah. Memang kenapa kalau Fatih masih dinilai belum bisa fokus duduk diam. Apakah itu membuat anak saya bermasalah??? Justru... pihak sekolah menilai anak saya memiliki daya nalar lebih besar dibandingkan kawan-kawannya, memiliki tingkat penasaran yang sangat besar sehingga sering sekali bertanya ke fasilitatornya di sekolah".
Saya mulai cari-cari informasi dengan baca-baca artikel, sharing dengan beberapa orang tua. Dan... puncaknya adalah saat saya sharing dengan sepupu yang seorang Terapis.

"Tenang... De, jangan dulu langsung menilai bahwa anak kita bermasalah atau sesuatu yang harus dikhawatirkan. Dari yang sudah-sudah, justru.. anak-anak seperti Fatih sebenarnya adalah anak yang cerdas tetapi kita saja sebagai orangtua nya tidak tahu cara menghadapi anak dengan kelebihannya, kita tidak tahu potensi anak yang sebenarnya. Coba.. kamu, suami dan anak melakukan Test Sidik Jari (STIFin). Dahulu kami melakukannya De, itu cukup membantu kami dalam berkomunikasi dengan anak"

Dan.. kamipun mencoba untuk mengikuti Test STIFIn, tidak hanya Fatih, kami orangtua juga melakukannya.
Gambar Fatih sedang test sidik jari
Test STIFIn ini merupakan salah satu metode analisis kecerdasan seseorang. Melalui STIFIn ini, seseorang dapat diketahui karakter, potensi bahkan bakat seseorang secara lahiriah atau boleh dibilang secara genetik. STIFIn akan membaca belahan otak manakah yang bekerja secara dominan. Karena, yang pernah saya baca bahwa setiap bagian otak mempunyai peran berbeda-beda. Belahan otak ini yang kemudian menunjukkan potensi dan bakat tersebut.





                                         (Sumber gambar: www.stifintangsel.com)




Dari hasil STIFIn tersebut Fatih merupakan tipe Sensing Extrovert sedangkan saya adalah Sensing Introvert.
Lalu... bagaimana karekter si Sensing Extrovert (Se) ini:
  • Se, memiliki otot yang kuat, boleh dibilang mempnyai energi yang sangat besar sehingga seakan akan tidak ada capeknya (Nah... thats why.. Fatih cenderung senang bergerak). 
  • Se, merupakan seseorang yang rajin. 
  • Cara belajar Se adalah mengandalkan visual dan gerak. Mungkin istilah lebih tepatnya kinestetik. Seorang Se akan sangat mudah menghafal melalui gaya visual dan melalui gerakan
  • Seorang Se akan sangat tertarik atau bersemangat jika diiming-imingi dengan hadiah.
  • Dermawan. Murah hati dalam segala hal.
  • Suka Pamer. Senang sekali menjadi pusat perhatian.

Dari beberapa point tersebut hampir sekeselurahan mewakili Fatih. Tentu saja, hasil dari STIFIn ini merupakan 20% adalah berasal dari lahiriah, atau karakter bawaan nya dari lahir dan selebihnya karakter tersebut dibentuk dari lingkungan sekitarnya. Maka, tak jarang beberapa orangtua berpendapat "koq... tidak sesuai dengan anak saya." "Anak saya tidak seperti itu".

Hasil test ini kami gunakan untuk berkomunikasi dengan Fatih. Ya.. setidaknya saya tidak berangapan anak saya bermasalah (padahal.. saya yang tidak tahu cara menghadapi karakternya) dan lebih utama adalah mengenal potensi anak sejak dini, sehingga bisa memberikan sarana dan prasaran semampu kami.


Saya dan Fatih memiliki tipe yang hampir sama, saya bertipe Sensing Introvert .Oleh karenanya kami memiliki selera yang sama dan memiliki 'Frekuensi' yang nyambung. Dan.. akan paling sukses mengajarkan anak adalah dengan sebisa mungkin ikut terlibat dari aktifitas anak.

Sedangkan Ayahnya, Feeling bertemu dengan Sensing. Maka, bentuk komunikasi yang paling pas adalah dengan menunjukan rasa cinta, kasih sayang Ayah. Karena pada dasarnya seorang yang Sensing adalah tipe yang sangat ingin dimanja.

Dari hasil penjelasan inilah beberapa kami coba terapkan ke Fatih.
  • Karena Fatih senang sekali bergerak, maka kami mencoba menyalurkan energinya dengan mengikuti kursus berenanng. Goal utamanya bukan agar Fatih bisa bermacam-macam gaya renang atau menjadi atlet renang (klopun iya, saya menganggap itu bonus). Alhamdulillah dia senang sekali mengikutinya. Supaya Fatih juga bisa mengikuti intruksi dari guru renangnya, maka sayapun ikut terlibat yaitu sesekali Ayahnya atau saya ikut berenang, jadi.. tidak hanya memintanya mengikuti intruksi tapi kami berusaha mempraktekanya.
  • Bentuk lain penyaluran energinya adalah dengan mengajaknya bermain sepeda (jika cuaca mendukung 😊). Terus terang aja usianya 5 tahun tetapi Fatih belum bisa menggoes dengan betul (ketika itu). Awalnya Fatih menolak, karena entah kenapa bersepeda merupakan kegiatan yang berat baginya. Tidak kehabisan akal, saya terus menemaninya dan mengarahkan cara bersepeda dengan diiringi sambil bermain huruf (Fatih sangat senang, jika diminta mencari huruf). Selain itu saya juga turut bersepeda, sehingga Fatih bisa melihat secara langsung bagaimana bersepeda itu. Alhamdulillah.. sekarang Fatih sudah bisa bersepeda, menggoes dengan benar dan sudah menjadi aktifitas yang menyenangkan baginya.

  • Usia Fatih yang saat ini sudah 5 tahun, memungkinkan untuk diajak berdiskusi. Ketika Fatih sedang tidak bersemangat sekolah contohnya, kami akan bernegosiasi dengan memberikannya reward, jika semangat ke sekolah. Nah... untuk point  ini kami melihat situasi dan kondisi, ya.. maksudnya sich.. supaya Fatih tidak selalu mengharapkan hadiah, tapi.. kami berusaha menjelaskan bahwa reward yang akan diberikan disesuaikan dengan kantong emak dan Ayahnya. Dan... sampai saat ini hal itu berhasil diterapkan ke Fatih 😊
Tentu saja usaha Emak tidak hanya sampai disini, ini hanyalah salah satu upaya kami ntuk bisa menggali potensi anak sejak dini dan berusaha memahami cara pandang Fatih dalam mengeksplore sekelilingnya. Jadi... masih sering juga tuch Emak dibikin pusing dan keluar tanduk dengan tingkahnya (namanya juga balita ya..😊). Pokoknya.. Emak masih banyak kurangnyalah, masih harus banyak belajar. 

Bagaimana dengan kamu??? Bagaiman usahanya dalam memahami karakter dan potensi anak???Pasti beda-beda khan..
Boleh juga lho.. sharing di comment 
 
Semoga ceritanya bisa memberikan manfaat dan inspirasi ya... 😊
Wasalamu'alaikum...







 


0 Comments:

Posting Komentar

 

STORY OF ME Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template