Senin, 31 Mei 2021

Seberapa Enakkah Tinggal dan Bekerja di Arab Saudi?

 Makkah, 31 Mei 2021

Assalamualaikum...

Ketika kita hidup, tinggal dan bekerja di luar negeri, tentunya banyak orang - orang yang akan bertanya. Mengenai kehidapan disana, enak ga tinggal disana? Biaya hidup disana mahal ga? Kehidupan sosial disana bagaimana? dan lain sebagainya. Saat ini, saya dan keluarga sudah memasuki tahun ke 3 tinggal di Arab Saudi, lebih tepatnya di Kota Makkah.

Arab Saudi sendiri merupakan salah satu negara Timur Tengah yang menjadi sasaran bagi penduduk Indonesia untuk bermukim baik itu bekerja ataupun menuntut ilmu. Ya ... Tidak heran memang, karna Saudi membuka lebar para investor dari luar untuk datang berbisnis dan bekerja, sehingga penduduk nya sendiri ditahun 2018 kurang lebih 10,74 Juta merupakan ekspatriat (GlobalMediaInsight.com), jumlah ini berarti sekitar kurang lebih 32% dari seluruh penduduk Arab Saudi.

Ekspatriat yang tinggal di Saudi berasal dari beberapa negara, dan yang paling banyak tentunya berasal dari negara - negara tetangga. Pekerja Migran Indonesia (PMI) sendiri berjumlah kurang lebih 0,47 Juta atau sekitar 4% dari seluruh penduduk Arab Saudi di tahun 2018 (GMI.COM), dan jumlah ini adalah jumlah yang tercatat atau boleh dibilang warga Indonesia yang memiliki surat kependudukan resmi. Namun ... saat pandemi banyak dari warga Indonesia yang memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Ketika dahulu, PMI yang bekerja paling banyak adalah yang sebagai ART. Namun ... untuk saat ini, Indonesia tidak lagi membuka akses bagi warga negara nya untuk bekerja sebagai ART. Sedangkan Pemerintah Arab Saudi lebih mengutamakan pekerja asing yang berprofesi, seperti supir, dokter, perawat, guru, apoteker dan lain sebagainya.

Lalu ... mengapa warga Indonesia begitu tertarik untuk tinggal dan bekerja di Arab Saudi? Secara umum, ketertarikan itu adalah karna kurs mata uang Arab Saudi yang lebih besar dibandingkan dengan mata uang Indonesia. Saat ini, kurs 1 Riyal kurang lebih setara dengan Rp3.800,- . Jadi ... bisa dibayangkan jika saja PMI mendapatkan gaji sebesar SAR 5.000 /bulan maka, jika di Rupiah kan bisa mencapai Rp19.000.000,-. Besaran gaji ini, biasanya dengan profesi sebagai staff belum untuk tingkatan yang lebih tinggi.

Namun, besar nya gaji yang diterima setara pula dengan biaya hidup disini. Sudah sekitar 5 tahun terakhir Arab Saudi menerapkan sistem semacam pajak bagi para ekspatriat, nilai nya sendiri bergantung dengan profesi dan besarnya gaji yang diterima. Pada umumnya, pajak ini dibayarkan oleh perusahaan terkait. Sedangkan untuk keluarga yang ikut serta dengan PMI tersebut, pajak dibebankan secara pribadi. 

Jadi ... ketika PMI sudah mulai tinggal di Arab Saudi akan mendapatkan kartu penduduk (Iqomah). Ketika kita mendaftarkan diri, maka kita secara otomatis dikenakan pajak setiap tahunnya, dan diikuti dengan asuransi kesehatan yang akan kita terima. Dengan iqomah ini mempermudah PMI untuk mendapatkan semua palayanan publik disini. Termasuk mendapatkan vaksin covid-19 secara gratis, hingga dosis kedua. Jadi... kalo Doraemon punya kantong ajaib yang bisa kemana saja. Nah ... ekspatriat Saudi juga punya, yaitu Iqomah tadi yang merupakan kartu ajaib *Emak mulai lebay deh* Karna dengan Iqomah semua bisa diakses. Bayangkan ... mulai dari membuat rekening di Bank, membeli kendaraan, menyewa tempat tinggal bahkan hngga ibadah Haji. Jika Iqomah tersebut hilang, ya ... wasalam *Harus urus lagi, buat baru dech*

Selanjutnya apa lagi sih... yang membuat orang khususnya warga Indonesia tertarik tinggal dan bekerja di Arab Saudi? yaitu karna berdekatan dengan 2 tahan suci, yaitu Masjidil Harom dan Masjid Nabawi. Ketika yang lain membutuhkan waktu dan dana yang lebih untuk mengunjungi kedua tempat suci tersebut, ekspatriat Saudi bisa mengungjungi kapan saja. Namun ... semenjak pandemik, Masjidil Harom dan Nabawi hanya dapat diakses jika mempunyai Tasreh (Surat ijin), dengan cara mendaftar melalui aplikasi Eatmarna. Jadi ... kita mendaftarkan diri baik itu umroh atau solat dengan waktu - waktu yang tersedia. Keren ya ... lagi - lagi semua diatur pake teknologi *Maafkan, Emak mulai norak lagi*